Deprecated: Hook custom_css_loaded is deprecated since version jetpack-13.5! Use WordPress Custom CSS instead. Jetpack no longer supports Custom CSS. Read the WordPress.org documentation to learn how to apply custom styles to your site: https://wordpress.org/documentation/article/styles-overview/#applying-custom-css in /home/himasp4l/public_html/wp-includes/functions.php on line 6078

Notice: Function get_block_patterns was called incorrectly. Could not register file "/home/himasp4l/public_html/wp-content/themes/twentytwentyfour/patterns/hidden-404.php" as a block pattern ("Slug" field missing) Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.0.0.) in /home/himasp4l/public_html/wp-includes/functions.php on line 6078

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/himasp4l/public_html/wp-includes/functions.php:6078) in /home/himasp4l/public_html/wp-content/plugins/post-views-counter/includes/class-counter.php on line 328
NAVAL DISCUSS - DARURAT SAMPAH - HIMASPAL Himaspal FT Undip HIMASPAL

NAVAL DISCUSS – DARURAT SAMPAH

Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Dalam kehidupan manusia kita banyak sekali mengahasilkan sampah seperti sisa makanan hingga sampah yang tidak bisa terurai. Banyaknya penggunaan bahan-bahan yang tidak bisa terurai menimbulkan pencemaran lingkungan, salah satu yang terbesar yaitu The Great Pacific Garbage Patch.

The Great Pacific Garbage, atau Kumpulan-kumpulan sampah plastik di Samudera Pasifik kini meluas dengan ukuran yang sepertinya tidak masuk akal. Kumpulan sampahsampah plastik yang mengambang di lautan antara Hawaii dan California ini terus membesar hingga berukuran 1,6 juta km2. Luas hamparan sampah yang terapung ini hampir seluas daratan Indonesia (1,9 juta km2). Hal ini dilaporkan dalam jurnal Scientific Reports yang dipublikasikan oleh majalah Nature.

forbes.com

Dalam studi tersebut disebutkan bahwa sampah di wilayah ini telah mengalami peningkatan sebesar 10 hingga 16 kali lebih banyak dari jumlah yang diduga sebelumnya. Satu hal yang menjadi fakta menyeramkan adalah bahwa sampah di sana tidak mengalami pengurangan. Bayangkan, apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

Kepala penelitian, Laurent Lebreton dari The Ocean Cleanup Foundation, Delft, Belanda mengatakan bahwa konsentrasi plastik di lautan pasifik tersebut semakin memburuk dan mengkhawatirkan. Akumulasi plastik ini disebabkan oleh arus yang mengumpul dan angin permukaan laut yang rendah.

“Ini adalah fenomena alami yang terjadi di semua cekungan samudra subtropis di dunia. Sebenarnya, ada empat lagi zona akumulasi seperti ini: Pasifik selatan, Atlantik utara, Atlantik selatan, dan Samudra Hindia,” ujarnya.

World Economic Forum pada 2016 menyatakan ada lebih dari 150 juta ton plastik di samudra planet ini. Tiap tahun, 8 juta ton plastik mengalir ke laut. Padahal plastik bisa berumur ratusan tahun di lautan dan terurai menjadi partikel kecil dalam waktu yang lebih lama lagi. Plastik bakal terakumulasi terus dan terus di laut.

“Tanpa tindakan yang signifikan, kelak bakal lebih banyak plastik ketimbang ikan di samudra, berdasarkan bobotnya, pada 2050,” kata World Economic Forum dalam ‘The New Plastics Economy, Rethinking The Future of Plastics’.


Bahkan pada 2025, rasio plastik dibanding ikan di samudra diperkirakan menjadi 1:3. Plastik bakal terus bertambah menjadi 250 juta ton, sedangkan jumlah ikan terus menurun akibat penangkapan yang makin gencar.

Sementara World Economic Forum menyatakan ada 150 juta ton plastik di lautan saat ini, lain lagi dengan Jenna R Jambeck (Universitas Georgia) dkk dalam penelitiannya. Jenna dkk menuliskan ada 275 juta metrik ton sampah plastik di 192 negara berpantai. Dari 275 juta metrik ton sampah itu, sebanyak 4,8-12,7 juta metrik ton nyemplung ke samudra.

Dari sekian banyak negara yang ada di dunia China menduduki peringkat pertama sebagai negara penymbang sampah plastic di laut dengan 8,8 juta ton per tahun lalu disusul oleh Indonesia dengan 3,2 juta ton per tahun. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebutkan, Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut. “Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia, sampah plastik sangat berbahaya,” ujar Susi. Ia menambahkan, berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut . Menurut sumber yang sama, lanjut dia, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 milar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik. ” Sampah plastik yang masuk ke laut dapat terbelah menjadi partikel-partikel kecil yang disebut microplastics dengan ukuran 0,3 – 5 milimeter. Microplastics ini sangat mudah dikonsumsi oleh hewan-hewan laut,” lanjut Susi.

Salah satu faktor mengapa Indonesia bisa menduduki peringkat 2 negara penymbang sampah plastic adalah buruknya pengelolaan sampah di Indonesia. Untuk itu kita dapat mengambil beberapa contoh pengelolaan sampah dari negara maju, seperti :

1. Jepang

Jika berkunjung ke Jepang Anda pasti akan jarang menemukan sampah berserakan di jalanan. Setiap rumah tangga di Jepang tidak bisa begitu saja memasukkan semua sampah ke dalam satu kantong saja karena harus dimasukkan ke dalam kantong terpisah. Bahkan ada yang mengharuskan sampah dimasukkan ke dalam kantong yang transparan.

Ada beberapa jenis sampah untuk pemilahan tersebut. Di Indonesia sampah dibedakan menjadi dua yaitu organik dan anorganik. Berbeda dengan Jepang yang memiliki tiga jenis pembagian sampah. Ada yang dibakar dan diolah secara alami. Ada sampah yang tidak bisa dibakar, dan barang-barang bekas yang tidak dapat dimasukan ke dalam plastic sampah seperti televisi, mesin cuci, AC, kompor dan sejenisnya.

2.Jerman

Di negara Jerman ada empat macam tempat sampah sesuai fungsinya. Pertama sampah sisa makanan berwarna cokelat, kedua sampah kertas atau karton berwarna biru, ketiga sampah rumah tangga berwarna hitam dan yang keempat adalah sampah kemasan berwarna plastik kuning.

Kalau ada kesalahan, sampah tersebut tidak akan di ambil oleh petugas dan pemilik sampah akan mendapatkan surat teguran dari pemerintah. Selain itu ada lagi sampah yang harus dipisahkan yaitu sampah botol kaca dan batu baterai yang sudah habis.

Pembuangan sampah botol juga di pisahkan sesuai warnanya. Misalnya sampah botol berwarna putih atau bening di buang sesuai tempatnya dan memiliki jam operasional membuang sampah dari pagi sampai menjelang malam.

3. Swedia

Swedia punya sistem pengolahan sampah yang canggih. Dilansir The Huffington Post, mereka menerapkan manajamen sampah dengan konsep waste-to-energy (WTE). Limbah rumah tangga diolah lewat proses pembakaran. Uap panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran ini lalu dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Kemudian listrik didistribusikan ke rumah-rumah di seluruh negeri.

Pembangkit listrik berbahan bakar sampah ini telah memasok kebutuhan panas bagi 950.000 rumah tangga dan memenuhi kebutuhan listrik bagi 260.000 rumah tangga di seluruh Swedia.

Pemerintah menyediakan fasilitas dan memberikan insentif untuk memilah-milah sampah sesuai jenisnya. Tempat sampah ada banyak jenisnya. Tempat sampahnya pun menarik, lebih mirip lemari dengan keadaan bersih dan tidak kumuh. Di tempat sampah umum juga dikelompokan sesuai jenisnya yaitu sampah organik, plastik, kertas, kaca, dan logam.

4. Belanda

Negerikincir angin ini memiliki kenangan buruk mengenai sampah. Pasalnya, di abad 17 hingga 19, Belanda dikenal karena tingginya jumlah sampah yang tak dikelola, dan banyak penduduknya yang terserang penyakit. Belanda mencari solusi terbaik.

Saat ini, mereka sudah menerapkan sistem pembakaran sampah yang cukup modern sehingga pembakaran tersebut bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik.

5. Korea Selatan

Cara warga Korea Selatan membuang sampah teramasuk unik. Mereka memiliki kantong kresek khusus untuk sampah. Setiap kantong punya warna berbeda untuk membedakan jenis sampah yang dibuang. Selain itu sudah tertera informasi mengenai wilayah dimana Anda tinggal. Jadi kalau membuang sampah sembarangan sudah pasti dapat dilacak keberadaannya.

Lalu, mereka memiliki tiga kategori sampah yang berbeda yaitu sampah makanan, sampah yang bisa di daur ulang, dan sampah lain-lain yang tidak bisa masuk ke dalam dua kategori itu. Misalnya popok bayi dan tisu bekas.   Kalau  tinggal di apartemen biasanya ada satu lantai yang digunakan untuk tempat pembuangan sampah. Ruang pertama untuk membuang barang-barang besar seperti sofa, lemari, meja, dan sejenisnya. Ruang kedua biasanya untuk sampah bekas makanan dan ruang ketiga  untuk sampah daur ulang. Uniknya lagi, kalau ketahuan  membuang sampah makanan yang masih tersisa maka Anda harus membayar denda.

bangazul.com
https://nationalgeographic.grid.id/read/13940123/menyedihkan-sampah-plastik-samudera-pasifik-hampir-seluas-indonesia?page=all
https://megapolitan.kompas.com/read/2018/08/19/21151811/indonesia-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-kedua-di-dunia

http://disasterchannel.co/2019/04/02/ini-5-negara-pemasok-sampah-plastik-terbesar-di-laut/

https://jic.co.id/sistem-pembuangan-sampah-di-jepang
https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3901947/cerita-akhir-pekan-6-negara-dengan-pengelolaan-sampah-terbaik-apakah-ada-indonesia